Kendo membawa saya ke tempat yang tidak saya perkirakan sebelumnya – part 1

indonesia kendo world kendo championship budokan japan

Selama 10 tahun aktif di Kendo, saya telah mendapat begitu banyak pengalaman, diantaranya ber-Kendo hingga ke Jepang, dan juga beberapa negara Asean, seperti Singapore dan Thailand. Berikut adalah cerita perjalanan saya di Kendo selama 10 tahun terakhir.

Latar Belakang Saya

Saya tumbuh sebagai seorang anak yang lebih sering berpetualang di dunia imajinasi. Sementara teman-teman saya bermain menjelajahi kebun dan hutan, saya lebih sering tenggelam dalam buku-buku yang saya pinjam di perpustakaan sekolah.

Tapi tetap sebagai seorang anak laki-laki, saya sangat antusias dengan dunia para jagoan. Bacaan favorit saya adalah kisah-kisan para pejuang, petarung, petualang, yang gagah berani menempuh berbagai rintangan, demi membela kebenaran dan keadilan (hey, ninja de gozaru).

Hal ini berlanjut ketika saya mulai mengenal televisi. Karena latar belakang keluarga, dan juga tempat tinggal di pegunungan yang berbatasan langsung dengan hutan, keluarga kami baru mempunyai televisi ketika saya sudah kelas 5 SD, atau kelas 6 ya, saya lupa.

Dari televise tersebut saya mulai mengenal tokoh-tokoh Anime dan Tokusatsu. Diantaranya yang paling jadi jagoan saya adalah Son Go Ku (Dragon Ball) dan juga Ninja Jiraiya. Dan semakin saya besar saya semakin menggemari anime dan manga (komik jepang). Terlebih ketika saya pindah ke kota besar: Malang, dimana anime dan manga adalah sesuatu yang sangat mudah diakses, dibanding ketika saya masih di desa.

Saat di Malang ini juga saya kemudian mengenal game computer, dan tetap genre game favorit saya juga petualangan/Adventure dan action.

Karena game, anime dan manga/komik yang saya baca, saya mulai tertarik untuk belajar Beladiri.

Beladiri pertama yang saya daftar untuk belajar, meskipun hanya sebagai coba-coba, adalah Wushu. Saya belajar mulai Wushu ketika saya duduk di kelas 3 SMP. Waktu itu saya bersekolah di SMP Negeri 4 Malang, dan berlatih Wushu di Museum Brawijaya, Jalan Ijen Kota Malang. Alasan saya bergabung dengan Wushu mungkin karena saya juga penggemar Jackie Chan dan Jet Li.

Hanya beberapa bulan belajar Wushu, saya ternyata tidak kerasan, atau tepatnya memang jiwa masih labil ya, usia SMP gitu.

Setelah masuk SMAN 8 Malang, saya sempat juga ikut TaeKwonDo, sebelum akhirnya pindah hati ke Karate, dan makin mantap saya dengan Jejepangan, haha. Termasuk saya mulai belajar bahasa Jepang juga di masa SMA ini.

Dan saya makin tertarik dengan budaya Jepang, terutama Samurai dan Bushido.

Saya lulus SMA tahun 2003, namun saya masih aktif di Karate SMA hingga 2005. Hingga kemudian saya agak sungkan karena belajar sama junior, padahal sabuk saya lebih rendah. Waktu itu memang di kampus saya kuliah tidak ada Karate.

Kemudian suatu hari di pertengahan tahun 2005, saya menemukan pamflet bergambar orang memakai hakama tertempel di warnet tempat saya bekerja. Wah apa ini, begitulah pikir saya. Ternyata itu selebaran tentang pembukaan Dojo Aikido, yang memang masih relatif baru di Malang. Saya kemudian menghubungi nomor yang tercantum, dan menyatakan tertarik untuk mendaftar.

Ok, jadi yang membuat saya tertarik pertama kali untuk join Aikido adalah Hakamanya, yang sangat identik dengan Samurai, haha.

aikido malang

Meskipun agak kecewa karena ternyata Hakama di Aikido baru boleh dipakai ketika sudah mendapat tingkatan DAN 1 (sabuk hitam tingkat 1), saya tetap bertahan dan merasa enjoy di Aikido. Saya bahkan menambah banyak teman yang masih in-touch sampai saat ini. Saya sempat latihan di setidaknya 3 dojo Aikido yang berbeda di Malang, meskipun itu mungkin sebenarnya tidak direkomendasikan sebagai pemula seperti saya.

Sembari tetap berlatih Aikido, saya juga pernah mencoba latihan Judo di PJSI Bentoel, namun saya harus mengakui kalau saya tidak kuat dengan latihan fisiknya, jadi hanya beberapa bulan saja.

Namun karena beberapa hal, utamanya karena masih galau, saya sempat berhenti latihan Aikido sekitar tahun 2008, dan mencoba fokus di Jujutsu, kembali karena saya tertarik dengan Hakama dan ilmu senjatanya. Saya juga sempat mengambil ujian kenaikan tingkat di Jujutsu, dan kemudian karena Jujutsu saya kenal dengan banyak teman yang masih in-touch juga hingga sekarang.

Awal mula berkenalan dengan Kendo

Suatu hari saya menemukan foto grup klub Kendo di Bandung di friendster, social media paling popular waktu itu. Saya kontak orang yang memasang foto tersebut dan bertanya banyak hal. Terutama sih harga alat dll. Ternyata mahal banget ya.

Kemudian tidak lama berselang saya juga menemukan friendster grup-semacam forum di friendster, berisi diskusi anak-anak Kendo Surabaya, waktu itu mayoritas anggotanya mahasiswa Unitomo dan ITS.

Saya bergabung dengan forum tersebut dan nimbrung ngobrol dan mengutarakan niatan ingin belajar Kendo.

Hingga kemudian ada yang menyarankan agar saya berlatih di Surabaya saja, setiap hari sabtu jam 2 siang. Pulang-pergi naik kereta, lebih murah dari pada naik bus.

Entah yang memberi saran itu serius atau hanya bercanda, tetapi saya merasa itu sangat masuk akal. Dan saya pun berniat menjalankan saran tersebut.

Tapi ketika saya pertama kali ke Surabaya, saya minta tolong teman untuk antar, dan kebetulan dia memang sedang nganggur dan ingin jalan-jalan. Waktu itu info awal latihan nya di SCC (Student Community Center) ITS (Institut Teknik Sepuluh November, bukan Institut Teknik Surabaya ya :D).

Kami pun berboncengan naik motor ke ITS. Sampai di ITS waktu hampir jam 2 siang. Ternyata ada perubahan lokasi latihan, dari semua SCC ITS ke SJS (Surabaya Japanese School). Kami berdua, saya dan teman tadi, kemudian nebeng mobil dari ITS ke SJS bersama teman-teman Kendo ITS.

O ya kalau tidak salah ingat, hari itu adalah hari sabtu, 4 Oktober 2008, kalau tidak salah ya.

Latihan pertama saya pun berjalan lancar, dan tentu saja saya sangat excited, haha. Bagaimana tidak; belajar Kendo, diajar oleh orang Jepang (waktu itu yang melatih Sudo-sensei), dan lokasi latihan di Sekolah Jepang.

Kemudian, seperti rencana sebelumnya, setiap sabtu pagi sekitar jam 8.30 saya pergi ke Stasiun Kota Malang, dari kost saya di daerah Bendungan Sigura-gura. Kemudian jam 9an saya naik kereta jurusan Blitar-Malang-Surabaya, dan sampai di stasiun Wonokromo sekitar jam 12.30, berganti moda transportasi angkot dan turun di depan Graha Pena. Dan lokasi SJS dari pinggir jalan raya masih sekitar 1 km. Saya pun seringkali jalan kaki, sekalian pemanasan. Tapi seringkali kepergok teman-teman Surabaya yang membawa motor, dan diajak bareng.

Saya juga sempat berlatih di Unitomo, di Aulanya yang luas, dan ada di lantai 3 atau 4 ya, saya lupa. Saya juga pernah latihan di ITS, baik di aula SCC ataupun di aula DR Angka.

Banyak cerita saya alami. Sempat suatu hari saya kehujanan ketika mau pulang ke Malang, dan terpaksa berteduh sampai malam di pos satpam ITS, dan sering juga saya jalan kaki lumayan jauh, terutama kalau latihan di ITS, karena harus oper-oper angkot dan kadang ketinggalan kereta. Dan juga tentunya cerita saya nyasar dan kebablasan waktu naik angkot, haha.

Kalau diingat, suka senyum-senyum sendiri, dan membuat saya kagum sama diri saya sendiri, begitu niatnya dulu saya ingin belajar Kendo.

Awal mula Malang Kendo Club

Setelah 3 bulan latihan dasar tanpa bogu, sekitar awal Desember 2008 saya diperbolehkan memakai Bogu. Tentu saja semua masih pinjam, termasuk Shinai dan Gi Hakama. Waktu itu Shinai sangat sulit didapat, dan kalaupun ada harganya cukup mahal untuk saya, yang masih setengah pengangguran.

Pengalaman pertama saya pakai Bogu luar biasa, sangat seru lah. Meskipun bisa dibilang tidak bisa apa-apa. Ketika ikut menu latihan Bogu user lebih banyak plonga-plongo. Tentunya secara bertahap saya mulai beradaptasi dengan Bogu dan menu latihan yang disajikan Sensei dan para Senpai.

Akhir Desember 2008, Senpai Iman, salah seorang senior yang paling senior waktu itu, menyampaikan bahwa dia mau pindah ke Malang, dan dia bertanya apakah ada tempat yang bisa dipakai latihan. Waktu itu memang saya sering latihan di lapangan rektorat Universitas Brawijaya, entah itu sekedar Jogging, latihan Aikido, dan juga Jujitsu. Akhirnya kita sepakati untuk memulai latihan di lapangan tersebut, sambil mencari lokasi lain yang lebih baik.

Kemudian, pada tanggal 13 Januari 2009, saya dan Senpai Iman berlatih di lapangan rektorat UB tersebut, berdua saja. Dan tanggal tersebut kita sepakati sebagai tanggal lahirnya Malang Kendo Club.

Perlahan-lahan Malang Kendo Club bertambah anggotanya, dan kemudian kami pindah dari lapangan rektorat ke aula Hotel Kalpataru, tempat Senpai Iman tinggal selama di Malang.

Kemudian kami juga sempat berpindah-pindah lokasi, diantaranya Grha PWI di Jalan Raya Langsep sebelah Dieng Plaza (sekarang Hi-Tech Mall), Aula Museum Brawijaya, GOR Pertamina, Chatalina Gymnasium, Stadion Gajayana, Gedung KNPI, Balai RW Bareng Kartini, dan terakhir hingga saat ini di Balai RW Samaan. Kami juga sempat beberapa kali latihan di stadion basket Bima Sakti.

Tempat latihan memang selalu menjadi permasalahan bagi klub olah raga bela diri, terutama karena golongan kami yang tidak punya koneksi orang birokrasi. Opsi yang paling kami incar dulu adalah masuk sebagai UKM atau Ekstra Kurikuler di Sekolah, agar bisa nebeng latihan. Tetapi ternyata itu lebih sulit dari pada mencari tempat itu sendiri.

Permasalahan tempat latihan ini adalah masalah klasik yang selalu menjadi beban bagi para pengurus waktu itu, dan tetap juga menjadi masalah sampai saat ini. Untungnya kami tetap bisa bertahan di masa krisis, dan kemudian tetap eksis hingga saat ini.

Dengan lahirnya Malang Kendo Club, maka resmilah bahwa di Jawa Timur, ada 2 dojo / organisasi regional Kendo. Yang pertama tentunya adalah Surabaya Kendo, yang waktu itu masih memakai nama Koryu.

Koryu sendiri awalnya adalah Klub Kendo Unitomo, yang mana nama tersebut dilahirkan oleh Kawabe-sensei, pendiri sekaligus pelatih Klub Kendo Unitomo. Seiring waktu, nama itu diambil lagi oleh pihak Unitomo (mengenai hal ini saya hanya mendengar sepintas), dan Surabaya Kendo kemudian mengambil nama baru, Surabaya Kenyukai.

Sebagai Klub Kendo resmi, Malang Kendo Club menjalani debutnya dalam turnamen regional Yamaha Kendo Cup 1 di SCC ITS, tahun 2009 sekitar bulan Mei. MKC diwakili saya dan senpai Iman. Waktu itu kami tidak bawa nomer apa-apa. Saya sendiri waktu itu masih baru sekitar 6 bulan pakai bogu. Jadi mohon dimaklumi.

Sejak tahun 2010 dan seterusnya, Malang Kendo Club aktif mengikuti kejuaraan baik regional maupun nasional.

Indonesia National Kendo Tournament 2010 dan lahirnya Indonesia Kendo Association

Tahun 2010 adalah tahun besar bagi Malang Kendo Club, dan juga bagi Kendo Indonesia.

Malang Kendo Club mengikuti 3 turnamen di tahun 2010, yaitu Koryuki (Surabaya Kendo Tournament), Yamaha Kendo Cup 2 (meskipun gagal tampil karena ada insiden dan kami datang terlambat), dan Indonesia National Kendo Tournament.

Di Koryuki, yang hanya dihadiri 2 organisasi regional, Malang dan Surabaya, Malang Kendo Club menjadi juara umum. Di Kelas Senior, kami mendapat peringkat ke 2, dan di Kelas Junior, kami mendapat peringkat 1 dan 2. Waktu itu hadiah yang kami terima hanya berupa tulisan di kertas, sederhana sekali.

Di Yamaha Cup, seperti yang saya tulis di atas, kami tidak bisa tampil karena ada insiden ketika baru berangkat dari Malang. Mobil yang kami tumpangi salah satu ban belakangnya lepas, dan kami tertahan sekitar 2 jam. Akibatnya kami datang terlambat, tetapi masih sempat untuk melihat beberapa pertandingan, dan belajar beberapa hal dari itu.

Yamaha Cup ini hanya berlangsung 2 kali saja, tahun 2009 dan 2010, kemudian berganti menjadi East Java Kendo Tournament di tahun-tahun berikutnya.

Di Tingkat nasional, pada Indonesia National Kendo Tournament 2010 saya yang mewakili Malang Kendo Club memperoleh peringkat 3 untuk kelas Junior (Kyu).

Bersamaan dengan Indonesia Nasional Tournament tersebut juga diumumkannya Indonesia Kendo Association sebagai organisasi Kendo nasional di Indonesia. Daftar anggota organisasi Regional yang terdaftar adalah Jakarta Kendo Association, Bandung Kendo Association, Surabaya Kendo Association, Yogyakarta Kendo Association, Persada Medan Kendo Club, dan Malang Kendo Association (waktu itu masih Malang Kendo Club).

9th Asean Kendo Tournament, Singapore 2010

Di bulan Oktober 2010, Indonesia Kendo Association (IKA) mengirimkan delegasinya untuk event 3 tahunan, ASEAN Kendo Tournament yang ke 9, di Singapore.

Secara mengejutkan saya ikut dibawa ke Singapore, bersama Senpai Iman mewakili Malang Kendo Club di squad Tim Kendo Indonesia. Walaupun hasil yang kami peroleh jauh dari memuaskan, tetapi kami banyak belajar dari event besar tersebut.

universal studio singapore

Kembali ke Surabaya, November 2010 adalah pertama kalinya, Surabaya Kendo menjadi tuan rumah Grading Examination yang diselenggarakan oleh IKA. Bersamaan dengan event tersebut juga, pertama kalinya secara resmi IKA / Jakarta Kenyukai / Jakarta Kendo berkunjung ke Surabaya.

Kunjungan dan grading Surabaya menjadi penutup rangkaian event besar di tahun 2010 bagi kami Kendoka Indonesia.

Indonesia Kendo Association menjadi anggota FIK di tahun 2014 dan lahirnya Malang Kendo Association

Setelah usaha yang keras serta proses yang cukup panjang, Indonesia Kendo Association diakui sebagai anggota Federasi Internasional Kendo (FIK). Terima kasih yang tak terhingga kepada para pengurus dan Sensei-sensei atas segala upaya dan sumbangsihnya.

Dengan menjadi anggota FIK, maka tingkatan yang diperoleh dari ujian yang diselenggarakan oleh IKA menjadi bertaraf Internasional, diakui FIK dan dunia.

Selain itu, Indonesia Kendo Association juga berhak mengirimkan delegasi untuk event resmi FIK, seperti World Kendo Championship (WKC), dan berhak menjadi tuan rumah event resmi seperti Asean Kendo Tournament.

Hal ini membangkitkan semangat para Kendoka Indonesia, apalagi ketika WKC berikutnya, yaitu WKC yang ke 16 pada tahun 2015, diselenggarakan di Jepang, Negara asal Kendo. Untuk menambah dramatis, WKC tersebut diselenggarakan di Nippon Budokan, Tokyo. Yang mana Budokan adalah ka’bahnya Budo (seni beladiri jepang).

Pada tahun 2014 ini juga, Malang Kendo Association resmi berdiri sebagai sebuah badan hukum.

bersambung ke part 2.

2 thoughts on “Kendo membawa saya ke tempat yang tidak saya perkirakan sebelumnya – part 1

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Menu