Kendo membawa saya ke tempat yang tidak saya perkirakan sebelumnya, part 2

asean kendo indonesia
world kendo indonesia budokan japan

Selama 10 tahun aktif di Kendo, saya telah mendapat begitu banyak pengalaman, diantaranya ber-Kendo hingga ke Jepang, dan juga beberapa negara Asean, seperti Singapore dan Thailand. Berikut adalah cerita perjalanan saya di Kendo selama 10 tahun terakhir. Postingan ini adalah lanjutan dari Part 1.

16th World Kendo Championship, Japan 2015

Semua organisasi regional IKA mengirimkan anggotanya sebagai kandidat Tim Indonesia pada WKC 2015, yang merupakan debut pertama Indonesia di event WKC.

Kami yang mencalonkan diri tersebut, mengikuti tahapan seleksi yang cukup panjang, mulai dari penilaian performa dalam turnamen lokal dan nasional, juga performa selama rangkaian training camp. Juga tentunya rekomendasi dari Sensei-sensei yang melihat keseharian kami dalam latihan.

Akhirnya ada 14 orang yang terpilih, 7 orang pria dan 7 orang wanita. Dan secara dramatis, saya termasuk dari 14 orang tersebut.

Sejak beberapa tahun sebelumnya, saya memang sangat berambisi untuk bisa ke Jepang. Berbagai cara sempat saya coba. Diantaranya ikut Seleksi Pertukaran Pelajar sewaktu SMA, ikut seleksi sebagai tenaga IT yang dikirim ke Jepang, hingga beberapa kali ikut seleksi magang ke Jepang yang diadakan Disnaker.

Saya juga banyak belajar bahasa Jepang, dan sempat 3 kali mengikuti ujian JLPT (Japanese Language Proficiency Test).

Tapi saya tidak menyangka akan berangkat ke Jepang sebagai anggota Tim Kendo Indonesia.

Saya tidak pernah merasa bahwa Kendo saya bagus, justru setiap kali saya melihat video saya ber-kendo, saya melihat banyak sekali hal yang seharusnya bisa saya perbaiki. Dalam hal kompetisi pun saya kurang berprestasi. Karena itulah saya katakan bahwa keputusan untuk menyertakan saya ikut ke Jepang adalah sangat dramatis.

Memang ada cerita di balik itu, bahwa ada seorang teman dari Malang yang mungkin lebih berpotensi untuk lolos masuk ke timnas, tetapi mundur karena ada pertimbangan lain. Tetapi sekali lagi, ini benar-benar membuat saya begitu kaget sampai bengong ketika tahu pengumumannya.

Tentunya, karena sudah terpilih, saya harus menunjukan bahwa saya layak untuk menjadi anggota Tim Indonesia. Saya berlatih lebih keras dan lebih sunguh-sungguh. Jangan sampai saya mengecewakan para Sensei yang sudah memilih saya.

Akhirnya hari itu pun datang.

world kendo wkc budokan

WKC 2015 adalah debut pertama Tim Indonesia di WKC, jadi kami tidak banyak target. Target utama adalah belajar dan “membuka mata” akan dunia Kendo Internasional. Seperti apa level mereka dst. Target kedua adalah lolos dari babak grup.

Target pertama jelas tercapai. Kami dibikin shock. Kalau selama ini di tingkat ASEAN kita hanya bertemu negara tetangga yang “itu-itu saja” di WKC kami bertemu dengan Kendoka dari berbagai belahan dunia, dan menyaksikan seberapa kuat Kendo mereka. Benar-benar “membuka mata” kami.

Target kedua kami gagal.

Kami kalah 2 kali dalam seleksi grup. Melawan Thailand, yang sudah sering kami hadapi di tingkat ASEAN, kami kewalahan. Kemudian melawan tim Belanda, kami nyaris tidak bisa berbuat banyak. Kami kalah 5-0. Tapi secara pribadi saya cukup beruntung mendapatkan 1 ippon dari lawan saya, meskipun tidak butuh waktu lama untuk lawan saya tersebut membalas 2 ippon.

Walaupun ada beberapa anggota Tim Indonesia yang juga turun di kelas Individual, hasilnya pun tidak terlalu bagus. Di kategori wanita, nasib kami hampir sama.

Jelas kami kalah level.

Hasil Akhir WKC ini cukup bisa di tebak. Jepang mendominasi semua kategori, di susul oleh Korea Selatan.

Cukup dengan hasil WKC tadi, kami pun memanfaatkan sisa waktu di Jepang untuk berjalan-jalan. Mumpung lagi di Jepang, belum tentu kita bisa ke sini lagi kan?

Karena perbedaan agenda dan anggaran (hehe), kami pun berpencar. Saya dan beberapa teman menyempatkan diri ke Asakusa, Tokyo Tower, Ueno Park, dan berkunjung ke beberapa toko alat Kendo. Terima kasih Sudo-sensei yang menyempatkan diri untuk menemani kami berjalan-jalan, dan mentraktir kami banyak makanan Jepang.

tokyo tower ice cream

Sebelum turnamen, kami juga sempat mencicipi Sushi mahal di Tsukiji Fish Market, dan melihat Meiji Jingu Temple.

Bisa ber-Kendo di Jepang, dan di Nippon Budokan (dan mengalami sendiri gempa yang cukup besar ketika kami di Budokan), plus bonus jalan-jalan. Sungguh suatu pengalaman yang luar biasa buat saya, dan saya sadar belum tentu bisa terulang lagi.

11th Asean Kendo Tournament, Bangkok 2016

Selesai WKC, semangat latihan saya makin membara.

Meskipun demikian, ternyata pekerjaan seringkali memaksa saya untuk mengurangi latihan, termasuk ketika kantor mengirim saya ke Makassar justru beberapa bulan sebelum event ASEAN Kendo Tournament (AKT) ke-11 di Bangkok Thailand.

Untunglah, saya masih sempat melatih fisik saya selama sebulan lebih di Makassar, dengan rajin push-up, sit-up dan teman-temannya. Saya juga sempat nge-gym di sela-sela jadwal saya bekerja.

AKT ke-11 di Bangkok dilangsungkan hanya beberapa hari setelah hari raya Idul Fitri 2016. Jadi harga tiket waktu itu masih mahaalll. Untungnya kami banyak mendapat subsidi dari IKA maupun dari sponsor lain (terutama para sensei, terima kasih sensei!).

Di AKT ini, kami belum bisa memberikan yang terbaik untuk Indonesia, tetapi Senpai Erman, yang dulu sempat menjadi anggota Malang Kendo dan sekarang sudah menjadi anggota Surabaya Kendo, memperoleh tempat ke-3 di kategori Men Individual. Dan saya sangat beruntung karena mendapat Fighting Spirit Awards pada kategori Men Team Match (saya lebih merasa karena beruntung). Terima kasih kepada Hamada-sensei atas kebaikan dan kemurahan hatinya.

asean kendo tournament 2016 indonesia team

Untuk pertama kalinya, juara AKT 2016 kategori Men Individual adalah seorang Nito Kendoka yang masih muda dari Singapore.

asean kendo tournament 11 nito
credit to https://www.facebook.com/armsabre.winter

Untuk Team, Vietnam mendominasi dengan menempati peringkat 1 dan peringkat 3.

Oya beberapa bulan sebelum event ini digelar, saya juga sempat muncul di Radar Malang, dan sempat membuat kantor heboh, haha. Saya sangat berterima kasih kepada mas Bayu dari Radar Malang, yang sudah me-wawancarai saya, dan menulis saya sedemikian rupa. Saya sampai sungkan karena prestasi saya yang sebenarnya tidak sebagus yang ditulis.

Nito Kendo?

Sepulang dari Bangkok, dan berkaca pada hasil AKT tersebut, saya menjadi sangat tertarik untuk mempelajari Nito Kendo. Bukan karena saya ingin menjadi juara seperti Kendoka Singapore tersebut, tetapi saya ingin memberi kesempatan kepada sesama teman Kendoka Indonesia, khususnya Kendoka Jawa Timur untuk berlatih melawan Nito Kendoka.

Saya pun menghubungi Sudo-sensei tentang niatan tersebut, dan beliau meminta saya datang ke rumah beliau.

Pada suatu pagi di hari sabtu, saya datang ke rumah Sudo-sensei dan belajar beberapa hal dasar mengenai Nito Kendo. Yang paling pertama kata beliau, adalah belajar membuat Nito Shinai. Karena Nito Shinai tidak mudah didapat, kami membuat sendiri dari Shinai standar yang ada.

Nito Shinai terdiri dari Daito (shinai besar/panjang) yang panjangnya tidak boleh melebihi 114cm, dan Shoto (pedang kecil/pendek) yang panjangnya tidak boleh melebihi 60cm. Sementara Shinai standar yang dipakai oleh Itto (satu pedang) Kendoka panjangnya 120cm.

Kemudian setelah hari beranjak siang, kami menuju Sekolah Jepang Surabaya (SJS) untuk berlatih, dan untuk pertama kalinya saya berlatih menggunakan 2 Shinai, yang baru kami buat (tepatnya modifikasi) beberapa saat sebelumnya.

Ternyata menggunakan 2 Shinai sangat sulit. Sangat berat. Sangat melelahkan. Sangat menyiksa. Haha.

Tetapi saya sudah kadung nyemplung, malu kalau menyerah begitu saja.

Selama latihan di Malang pun, saya pun menggunakan 2 Shinai, meskipun kadang saya tukar Shinai ketika tangan sudah tidak kuat. Saya juga sempat beberapa kali latihan menggunakan 2 shinai di SJS, hingga kemudian East Java Kendo Tournament (EJKT) 2016 segera datang.

Saya bertanya ke Sudo-sensei, nanti saya turun di EJKT menggunakan 1 Shinai atau 2 Shinai? Beliau menjawab; Sekali Nito, sampai mati Nito. Jederr! Tidak ada jalan untuk kembali!

Tapi waktu itu sebenarnya ada satu ganjalan dalam hati saya, bahwa Masukata-sensei kurang setuju saya menjadi Nito Kendoka. Beliau bahkan berujar, “Muda da naa~”, yang artinya kurang lebih, “sayang sekali, kemampuan anda terbuang sia-sia”. Ugh! Menohok bangeet!

Tapi ketika EJKT dan Grading makin dekat, saya mendapat pesan Sudo-sensei lewat chat, yang kurang lebih begini: “Besok EJKT dan Grading pake satu shinai dulu, Sensei-sensei bilang bahu anda belum cukup kuat!”.

Dan akhirnya saya pun tetap menggunakan satu shinai di EJKT dan Grading tersebut.

Menginjak tahun 2017, saya melanjutkan berlatih menggunakan 2 Shinai, dengan sesekali tukar Shinai ketika sudah tidak kuat.

Hingga karena satu hal, saya menjadi kurang aktif di Kendo, dan frekuensi saya latihan makin jarang. Saya pun jarang latihan di rumah, sehingga saya tidak berani untuk menggunakan 2 Shinai ketika latihan di Dojo. Tangan saya tidak kuat! Padahal Shinai standar saya sudah saya hibahkan.

Dan ternyata, setelah 4 tahun yang lalu saya memulai Nito, saat ini bahu dan tangan saya masih terlalu lemah, karena kurang latihan.

Dan secara jujur saya pun ragu apakah akan meneruskan Nito ataukah kembali ke Itto.

Masa depan saya dan Kendo

Seperti yang saya tulis di atas, sejak 2017 saya sudah tidak terlalu rutin latihan.

Penyebabnya terutama adalah kerjaan, dan keluarga.

Satu hal yang umum saya temui di dunia beladiri di Indonesia, setelah berkeluarga, terutama punya anak, banyak senior-senior yang pensiun. Mungkin kalaupun masih aktif hanya sebagai pelatih atau latihan santai. Saya termasuk yang tidak umum, karena setelah menikah di 2011, saya masih sangat aktif hingga 2017. Berarti sudah dapat bonus 6 tahun, haha.

Saya memang sempat berniat mengakhiri karir saya di kompetisi Kendo setelah WKC 2015. Tetapi ternyata saya tidak bisa, dan akhirnya berlanjut di AKT 2016. Saat itupun saya sudah berniat untuk berhenti dari kompetisi, tetapi saya hampir tidak bisa juga. Dan sepertinya sejak tahun 2017 saya benar-benar pensiun.

Tentu saya tidak bisa sepenuhnya berhenti dari Kendo, tetapi durasi dan frekuensi saya latihan memang jauh berkurang.

Karena hal tersebut, saya absen dari seleksi WKC 2018 dan AKT 2019. Tetapi saya ikut senang melihat teman-teman saya, dari Malang maupun Surabaya, yang banyak mengisi squad Tim Indonesia pada 2 event besar tersebut.

Untuk event regional, saya masih ikut berpatisipasi. Meskipun dengan persiapan dan kondisi seadanya, dengan niat sebagai penggembira saja. Menikmati serunya Kendo tanpa memperhitungkan menang atau kalah. Itulah yang menurut saya hal terpenting dari Kendo.

Secara kesimpulan, dulu ketika saya memulai untuk berlatih Kendo, saya tidak menduga akan mengalami begitu banyak hal baru yang bawa oleh Kendo. Dengan begitu banyak pengalaman tersebut, saya merasa bersyukur bisa mengenal Kendo dalam hidup saya. Dan saya berniat untuk tetap ber-Kendo selama saya masih bisa.

Saya sangat berterima kasih kepada sensei-sensei yang telah membimbing saya selama ini, dan juga teman-teman yang membantu hingga saya sampai tahap sekarang ini.

Semoga Kendo Indonesia makin maju, khususnya Kendo Jawa Timur!

One thought on “Kendo membawa saya ke tempat yang tidak saya perkirakan sebelumnya, part 2

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Menu